Selasa, 10 September 2013

Lunar Maiden - Chapter 4

"Runa Chihaya... Salam kenal,"
Runa membungkuk setelah menuliskan namanya di papan tulis.

"Wahahah!! Wajahmu hancur seperti di bulan!" ejek salah seorang siswi yang mengundang tawa murid-murid yang lain. Runa hanya tersenyum pasrah, mengingat benar perkataan Aisha. Aisha nampak berfikir sambil melihat siswi yang mengejk Runa tadi.

"Sudah, sudah!" Cammie menenangkan kelasnya, "Baiklah, Chihaya--"

"Runa," potong Runa. Ia tak mau orang-orang memanggilnya menggunakan marga.

"--Runa, silahkan duduk di belakang Alicia," Cammie memandang ke arah Alicia. Alicia membenarkan topi sebo-nya dan melambai ke arah Runa. Alicia tersenyum riang dan wajahnya tampak berseri-seri. Runa tersenyum melihatnya. Dilihat dari raut wajahnya, Alicia adalah tipe cewe yang supel dan periang. Tapi, tak mungkin dia tak menyimpan dendam, bukan?

"Arigatou, Cammie-sensei..." Runa berjalan menuju bangku yang ditunjuk. Selama perjalanan, para murid banyak yang mencibir Runa. Runa mengetahui itu, tapi dia bersikap seolah tak tau apa-apa. Kalau mereka jahil, tinggal minta bantuan Aisha. Beres.

"Hai, kawan..." sapa Alicia dengan bisikan --takut dilempar kapur oleh Cammie--- ,"Aku Alicia. Dan aku adalah temanmu," sambungnya sambil bersandar pada sandaran kursi.

Merasa mendengar bisikan maut(?), Runa menoleh, "Hai'... Salam kenal, Alicia. Terimakasih sudah mau berteman denganku," jawab Runa. Aisha melihat sekeliling dan mendapati siswi yang tadi mengejek Runa sedang mengoleskan lipstick dari balik buku bahasa Jepang yang tebal. 

Aisha tersenyum licik dan terbang mendekati gadis itu. Sebut saja Rika. Aisha kemudian menyenggol tangan Rika yang sedang mengoles lipstick, sehingga membuat sedikit codet(?) dari bibir ke pipinya dan juga, otomatis buku yang tadi sebagai pelindung, terbaring ke meja dengan bunyi lumayan keras.

Mendengar suara buku, Cammie menoleh dan melihat codet di pipi Rika. Cammie menggeram marah dan menarik napas, "KARASUMA-SAN!!!" teriak Cammie kepada Rika. Rika menoleh dengan wajah tanpa dosa. Dan teriakan Cammie membuat seisi kelas melihat ke arah Rika.

"Ada apa?" tanya Rika datar. Cammie mengepalkan tangannya dan--

BUAGH!

--memukul meja. Rika mengangkat sebelah alisnya dengan gaya sok. Cammie merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan cermin kecil dan mengarahkannya ke wajah Rika. Rika terbelalak melihat wajahnya yang terkena codet lipsticknya sendiri.

"A-apa?! Ti-Ti--"

"Keluar dari kelasku!! Tidak ada yang boleh berdandan di kelasku!!" potong plus usir Cammie sambil menunjuk pintu kelas. Gelak tawa murid-murid kembali terdengar, Aisha kembali ngakak sambil guling-guling di atas udara. Runa menahan tawanya, berusaha terlihat kalem di hari pertamanya sekolah.

-- 09.35 a.m --

Bel istirahat berbunyi. Runa keluar dari kelas bersama Alicia dan tanpa Aisha. Entah ke mana Aisha pergi, yang pasti, tadi dia izin untuk jalan-jalan.

"Runanyan, tadi aku membuat bekal di dapur asrama. Mau makan bersama?" tawar Alicia. Runa mengangguk, karena ia juga tak mau di-bully oleh anak-anak kantin. Apalagi, Aisha sekarang tak ada bersamanya. Mereka berdua berjalan menuju atap. Selama perjalanan, Runa melihat Alicia. Alicia memang cantik. Rambutnya berwarna coklat terang dan matanya berwarna hitam pekat. Belum lagi, dia memakai topi sebo. Terlihat manis. Walau ada jiwa kekanakannya.

Mereka duduk di lantai atap dan menyandar pada jerujinya. Alicia membuka kotak makannya. Hanya bento biasa, namun dengan porsi berlebih, menurut Runa. Terlihat sedap dan harumnya pun tercium. Runa meneguk lidahnya. Belum pernah dia memakan bento setelah sekian lama.

"Buka mulutmu. Biar aku suapin~ aaaa~~" Alicia menyodorkan bento ke mulut Runa. Runa awalnya sweatdrop, namun ia menurut juga. Dilahapnya bento dari tangan Alicia.

"Oishiiii~~!! QvQ" Runa bergumam dan Alicia tertawa. Mereka makan bergantian dan terdengar tawa khas moe dari mereka berdua. Sungguh suasana pertemanan yang Decan impikan TwT #plak!

Test... Test...
Kepada Alicia Galiamova(?), harap menuju ke uks. Sekali lagi, kepada Alicia Galiamova, harap menuju ke uks. Terimakasih.

"Ah... Aku harus pergi, Runanyan. Habiskan saja makanannya. Oke? Jaa~" Alicia pergi meninggalkan Runa di atap. Runa terbengong lalu menatap kotak makanan Alicia. Tanpa pikir panjang, Runa kembali melahap bento yang ada.

Kraak

Runa memegang lehernya. Dirasakannya lehernya tercekik. Tercekik kuat. Bento yang tadi dikunyahnya, kembali termuntah keluar. Dari bibir pintu, terlihat Rika Karasuma dengan seringai jahatnya. Runa terbelalak, menatap tak percaya. Apa salah Runa?

"Runa Chihaya," Rika mendekati Runa. Badan Runa terangkat ke atas dengan sendirinya. Kedua tangannya terentang dan tubuhnya dihempaskan dengan kuat ke tembok di sana. Tentunya dengan rasa cekikan yang luar biasa di leher Runa.

"Kah.." darah keluar dari mulut Runa membuat Rika terkikik jahat. Rika kembali mendekati Runa. Runa menatapnya sendu namun tajam. Kilatan di sepasang zamrud Runa terlihat. 

"Tadi pagi, kau pergi ke gedung sekolah bersama Haru-senpai..." kata Rika. Runa mengingat kejadian tadi pagi. Benar. Dia pergi dengan Haru.

"K-khh~" Runa merasakan cekikannya tambah kuat.

"Dasar tak tau malu! Anak baru sudah berani jalan dengan senior! Tak tau malu!!" umpat Rika kini memegang katana di tangan kanannya. Runa kehabisan nafas. Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Mati? Ya, terserah. Logikanya tak bisa bekerja.

CRASH!

Katana itu dihunuskan oleh Rika tepat ke perut Runa. Membuat Runa terbelalak dan... Entahlah. Runa merasakan gelap sekarang.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pembaca Yang Baik Ialah Yang Memberikan Keripik Pedasnya(?)
by Sofie Diana Fitriah(Decan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar