"A-Aisha...?" suara Runabergetar dan ia mundur beberapa langkah. Ia ketakutan.
Aisha melayang di udara dan terbangmendekati Runa yang sedang gemetaran dengan mata terbelalak. Tak percaya apayang dilihatnya. Aisha menatap Runa bingung.
"Kau ketakutan?" Aishamemiringkan kepalanya mengharap jawaban dari Runa. Runa tak mampu membukamulut. Melihat itu, Aisha langsung merengkuh pipi Runa dan mengelusnyalembut,"Aku tidak jahat kok, Runa-chan ^^ Kau kan sudah kupanggil 'teman'.Jadi? Apa yang kau takutkan?" Aisha berkata lembut berusaha menenangkanRuna. Runa sedikit lega dan gemetarnya perlahan mereda.
Aisha. Gadis yang dibunuh oleh temanlelakinya yang sampai sekarang ini lelaki itu hilang entah ke mana. Aishamemiliki rambut hitam panjang dan mata berwarna kuning juga kulitnya yang putihpucat membuatnya kelihatan menyeramkan. Ditambah dia bisa menyentuh manusia.Aisha secara fisik kelihatan kejam, tapi, sifatnya baik dan asik, walaupun diahantu.
"Jadi begitulah... Aku sukamenjahili anak-anak yang nakal di sekolah ini," Aisha berceritakesehariannya. Runa hanya mendengarkan karena ia masih ketakutan.
"T-tapi... Kenapa aku bisamelihatmu?" tanya Runa gugup. Aisha menggaruk kepalanya.
"Aku juga tidak tau. Aku ajaheran kenapa kau bisa melihatku. Saat kau memasang ekspresi kaget tadi, akulangsung mengambil kesimpulan kalau kau bisa melihatku. Makanya dengan taksegan-segan kuperkenalkan diriku," jawab Aisha mengangkat bahu. Runamelepas handuknya lalu memakai piyama warna putih.
"Besok kau sudah harus belajar,yah? O.O" tanya Aisha. Runa menoleh dan mengangguk, "Aku akanmenemanimu ^^. Biasanya, anak baru selalu di bully sampai berdarah-darah... Takpeduli cowo atau cewe. Bagaimana?" tawar Aisha semangat. Runa berbalikmenghadap Aisha.
"Bully?" tanya Runa. Aishamengangguk ,"Kejam sekali. Kenapa harus dibully?"
"Ng? Karena, kalau tidakdibully, belum afdhol(?)," jawab Aisha tak masuk akal. Runa menghelanafas.
"Baiklah, kurasa besok akusangat membutuhkan bantuanmu, Aisha..." jawab Runa. Sepertinya ia mulaiterbiasa dengan Aisha. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bertemu.
"Siap, nona Runa! ^o^"
-''- Esoknya di Ghost Highschool --Tepatnya di kamar 019 G- -''-
-''- Esoknya di Ghost Highschool --Tepatnya di kamar 019 G- -''-
Runa melihat pantulan dirinya dicermin. Seragam Ghost telah melekat di tubuhnya yang ideal. Pas. Cocok. Tidakkebesaran, tidak kesempitan. Runa sedikit kagum dengan desainnya yang standaruntuk sekolah. Runa berpikir, sekolah ini sama seperti sekolah biasa. Hanyavisi dan misinya saja yang berbeda. Andai ia mengetahui sekolah ini dari dulu.
"Woh! Cocok sekali di badanmu,Runa," Aisha tiba-tiba muncul di belakang Runa.
"Kya!" Runa terkejut danhampir saja terjatuh jika ia tidak bisa menjaga keseimbangannya. Aisha mengelusdagunya, melihat Runa dari bawah hingga atas.
"Kau butuh sedikit perubahan dirambut," kata Aisha. Runa memiringkan kepalanya, "Lebih baik rambutmudi twintail biar kelihatan manis," komentar Aisha langsung siap denganbeberapa alat untuk rambut.
Runa kembali melihat ke cermin.Benar juga. Selama ini rambutnya pirangnya ia urai dan sedikit tak terurus.Runa melihat ke Aisha dengan tatapan ku-mo-hon. Aisha tertawa kecil danmenyuruh Runa duduk.
Tak butuh waktu banyak untukmengatur rambut Runa. Kini rambut Runa diikat twintail dengan ikat rambutbermainkan pita besar berwarna hitam. Dan itu sangat cocok dengan seragam Ghostyang terpadu warna hitam-putih(lihat seragam AKB48 5th stage Oogoe Diamond.Fokus ke Minami Takahashi xD #plak). Runa cengo melihat dirinya di cermin.Aisha mengibas poninya bangga.
"Itu style-ku dulu waktu masihhidup," ujar Aisha menyilangkan tangannya ke dada. Runa menghela nafasberat lalu menatap Aisha.
"Terimakasih, teman. Gue sukagaya lo!" tukas Runa tiba-tiba alay(?). Gantian Aisha yang cengo.
"Sudah! Ayo cepat! Tentengtasmu dan pakai sepatu yang warna putih itu!" kata Aisha langsung keluarkamar menembus pintu. Runa dengan cepat memakai sepatunya dan membuka pintudengan tergesa-gesa.
Cklek--
-JDUAGH!
"Aw!!" rintih seseorang dari balik pintu yang dibuka Runa. Runa celingak-celingukmencari sumber rintihan. Saat dia melihat di balik pintu, didapatinya seoranglelaki sedang terduduk sambil mengelus jidatnya yang memerah. Runa langsungmengambil kesimpulan inilah korban pintu terbuka(?).
"Aw!!" rintih seseorang dari balik pintu yang dibuka Runa. Runa celingak-celingukmencari sumber rintihan. Saat dia melihat di balik pintu, didapatinya seoranglelaki sedang terduduk sambil mengelus jidatnya yang memerah. Runa langsungmengambil kesimpulan inilah korban pintu terbuka(?).
"D-daijyoubu?" tanya Runawas-was takut kena sumpah-serapah dari lelaki yang kelihatan judes ini. Lelakiitu mendongak melihat Runa yang badannya sembunyi di balik pintu. Lelaki itumembuang nafas dan tersenyum.
"Anak baru?" tanya lelakiitu menatap Runa lembut. Runa terbelalak dan dapat ia rasakan wajahnya memanas.Ternyata dia tidak akan diomeli oleh lelaki ini. Thanks, God~
"I-iya," jawab Runa gugup.Tak tahan melihat wajah lelaki itu. Lelaki itu mengulurkan tangannya entahbermaksud meminta bantuan atau mengajak berkenalan. Runa menjabat tangan lelakiitu.
"Haru Saitama," Harumemperkenalkan diri.
"Runa Chihaya," Runamenyebut namanya dan langsung menarik tangan Haru --Membantunya berdiri-.
"Runa, ya? Bulan..."komentar Haru lalu menepuk pakaiannya yang kotor. Runa mengangguk lalumembungkuk.
"Gomenasai, Haru-san... Akutidak sengaja," ucap Runa merasa bersalah. Haru melihat Runa lalumenggaruk lehernya.
"Sudahlah. Angkat badanmu. Akujuga tidak terluka. Hanya saja... Yang tadi itu mengagetkanku. Tapi, sekalilagi tidak apa-apa," kata Haru lalu mem-pukpuk kepala Runa. Runaterbelalak karena perlakuan Haru.
"Ciyat! Ciyat! Ciyat! XD"Aisha tiba-tiba nyeletuk menggoda Runa. Wajah Runa memerah tak karuan.
"Aku benar-benar mintamaaf," ujar Runa setelah mengangkat badannya. Haru tersenyum.
"Kau di kelas berapa?"tanya Haru saat mereka sedang berjalan bersama menuju gedung kelas.
Gedung kelas yang diceritakan disiniberbentuk seperti tabung dan bertingkat. Lantai pertama adalah lobby, di manapara murid sering berkumpul dan sebagainya. Di lantai pertama selalu tersediamading yang rolling tiap minggunya. Lantai kedua, adalah kelas X besertaloker-lokernya. Lantai ketiga, kelas XI beserta lokernya. Dan lantai keempat,adalah kelas XII beserta lokernya juga. Yang jelas, gedung ini sudah bisadikatakan mewah.
"Aku di kelas X - 2,"jawab Runa. Haru mengangguk mengerti.
"Aku di kelas XI - IPA 1. Akuduluan, ya. Hari ini aku piket kelas. Jaa~" Haru pamit duluan lalu berlarike kelas. Runa melambaikan tangannya sebentar.
"Ciyat~! Teman kedua~,"goda Aisha yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka berdua.
"Sudahlah~... Ngomong-ngomong,kantin ada di mana? Aku lapar," tanya Runa. Aisha langsung terbangmendahului Runa. Runa mengikuti Aisha hingga sampailah mereka di kantin.
Murid-murid yang ada di kantinmemandang Runa sinis dan jahil. Runa merasakan keganjalan dari tatapan mereka.Tapi, tetap Runa berusaha tenang dan pura-pura tidak mengetahui apa-apa. Toh,Runa belum berbuat masalah pada mereka. Kecuali pada Haru pagi ini. Aishamengisyaratkan tetap tenang. Runa mengikuti Aisha hingga sampai ke countertempat makanan di letakkan.
Runa hanya mengambil satu porsi rotibakar rasa kacang yang sudah dipotong-potong dan susu coklat yang tersedia dinampan. Runa celingak-celinguk mencari tempat duduk dan untungnya Aisha sudahmendapatkan tempat yang kosong. Di pojok dan tersedia untuk dua orang. Runalangsung duduk di kursinya.
“Hei, suatu anugerah bertemu dengangadis manis sepertimu. Aku Frans, namamu?” sapa seorang lelaki berpenampilanaca-acakan. Runa mendengus kesal.
“Runa,” jawab Runa singkat. Takberminat berteman dengan lelaki macam ini. Frans manggut-manggut dengan wajahsok-nya. Aisha melihat Frans sambil tertawa dengan nada menyeramkan, membuatRuna sedikit merinding.
“Dia punya niat jahat, Runa. Biaraku yang urus… Dialah yang akan menjadi musuh pertamamu di Ghost. Anggap sajakau tidak melihat apa-apa,” ujar Aisha seakan tau apa yang ada dipikiran Runayang tadi menyimpan sebuah tanda Tanya kenapa Aisha tertawa.
Runa memulai melahap roti bakarnyayang terlihat menggiurkan. Sedangkan Frans, entah sengaja atau tidak, Fransmenjatuhkan garpunya ke bawah dekat kaki Runa. Dengan wajah memelas, Runamengerti maksud Frans.
Runa membungkuk, berusaha mengambilgarpu itu tanpa harus menggeser bokongnya. Letaknya tak terlalu jauh dan takpula dekat. Hanya saja, sulit untuk digapai oleh tangan Runa. Sementara itu,Frans menuangkan beberapa sendok cabe rawit di atas meja ke dalam susu coklatRuna. Aisha yang melihat itu tak tinggal diam, ia lalu mengikatkan ujung taplakmeja ke ujung baju Frans tanpa diketahui oleh Frans sendiri.
“Ini,” ucap Runa saat berhasilmendapatkan garpu itu. Frans tertawa terbahak-bahak dan membuat Runa bingung.
“Itu kan sudah terinfeksi olehbakteri. Kalau jatuh, ya biarkan saja! Kan masih banyak garpu di kantin!” Fransmenertawai Runa. Runa merasakan wajahnya panas karena marah. Ingin rasanya iamenonjok wajah Frans. Tapi, dia ingat. Harus jaga sikap sebgai anak baru. Runamengelus dadanya, berusaha sabar.
Runa kembali melanjutkan makanannyasambil ditertawai oleh Frans sehingga seisi kantin juga menertawai Runa. Runabersikap seolah tak terjadi apapun.
“Aku sudah selesai,” Runa beranjak.Frans melihat Runa. Tak sampai sepuluh menit Runa bisa menghabiskan sarapannya.Ayolah, itu hanya roti bakar.
“Cepat sekali! Ayo minum dulu! Tidakbaik menyisakan sarapanmu,” tegur Frans sambil menyodorkan susu cokelat Runa.Runa menggeleng. Karena Runa menyadari ada perubahan di susu cokelatnya. Yaitu,terdapat biji-biji cabai di dalamnya. Itu juga tadi sempat diberi tahu Aisha.Runa cepat-cepat beranjak dari sana.
“Hei, tung—“ Frans berlari mengejarRuna, namun…
PRAAANG!
Piring-piring yang diatas taplakmeja itu tertarik oleh badan Frans sendiri hingga jatuh ke lantai dan pecah.Spontan seisi kantin tertawa keras. Terlebih lagi Aisha, sampaiberguling-guling si atas udara. Runa menahan tawa dan cepat-cepat berlari meninggalkan kantin.
“RUNAAAA!!!” Frans teriak kesal dankeluarlah seisi kebun binatang dari mulut Frans.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pembaca Yang Baik Adalah Yang Meninggalkan Keripik Pedasnya(?)
By Sofie Diana Fitriah(Decan)
Pembaca Yang Baik Adalah Yang Meninggalkan Keripik Pedasnya(?)
By Sofie Diana Fitriah(Decan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar