Selasa, 10 September 2013

Lunar Maiden - Chapter 2

Mobil Sport Akira terparkir rapi di halaman sekolah itu.
Sekolah yang bersuasana suram bin mencekam bin menyeramkan. Runa berusaha menepis semua keganjalan di hatinya akibat suasana yang terpancar dari tiap gedung di sekolah ini. Toh, kalau dia kenapa-kenapa, Akira yang akan bertanggung jawab dengan nyawanya.

"Ini... Ghost Highschool?" tanya Runa mengelus lehernya sendiri saat angin dingin menghembus. Akira mengangguk lalu berjalan di depan Runa. Runa mengikuti Akira dari belakang.

"Selamat malam, pak Akira," sapa seorang wanita berumur 29 tahun-an dengan pakaian dinas yang sexy nan ketat sambil menjabat tangan Akira.

Akira membalas jabatan wanita itu, "Jangan pakai 'pak'. Aku terkesan tua," kata Akira. Wanita itu tertawa kecil.

"Baiklah, Akira... Siapa yang kau bawa?" tanya wanita itu sambil melihat Runa yang bersembunyi di belakang Akira.

"Dia Runa Chihaya... Gadis yang sudah diselamatkan," jawab Akira lalu menarik Runa sehingga Runa berdiri tepat disampingnya.

"Gadis itu...? Kau hebat, Akira. Menemukannya hanya dengan 1 malam," puji wanita itu lalu mendekati Runa, "Vasilissa," wanita itu mengulurkan tangannya. Runa menjabat tangan Vasilissa lalu menyebutkan namanya.

"Taukah kau kenapa Akira membawamu ke sini?" tanya Vasilissa. Runa menggeleng, "Karena kau termasuk anak yang memiliki masa lalu yang suram menurut tetua kami. Kami menyelamatkan anak-anak yang memiliki dendam kepada seseorang dan melatihnya di sini sehingga anak itu dapat membalaskan dendamnya kepada orang yang ia dendami," jelas Vasilissa. Runa teringat dengan kejadian orang tuanya dulu. Ia mengepalkan tangannya kuat.

"Apa menurutmu kami jahat?" tanya Akira sembari menggenggam tangan Runa, bermaksud membuat Runa tenang. Runa melihat Vasilissa dan Akira bergantian.

Runa tersenyum, "Tidak... Kalian malah menolongku. Terima kasih telah membawaku ke sini. Aku memang mempunyai dendam dengan seseorang dan kuharap seseorang itu akan habis ditanganku. Dan orangtuaku tersenyum melihatku," terang Runa dengan senyuman.

"Dan lagi... Kau akan mendapatkan rasmu. Tapi, rasmu akan aktif jika di saat terdesak," tambah Vasilissa. Runa ber-"wow" kagum. Benar-benar beruntung ia masuk ke sini, "Rasmu ditentukan oleh aura yang kau miliki," 

"Aku siap," ujar Runa semangat. Akira dan Vasilissa tersenyum.

"Vasi, bisa kau antar Runa ke kamar? Aku terlalu lelah mencari dia," kata Akira lalu pergi berlalu. Vasilissa mengangguk lalu menggenggam tangan Runa dan mengantarnya menuju asrama putri.

Sepanjang perjalanan, Runa melihat Vasilissa. Vasilissa memiliki postur tubuh tinggi, kulitnya putih pucat, rambutnya hitam gelap bergelombang, tatapannya tajam namun masih terdapat kilatan kebajikan di dana. Runa menghela nafas lega.

Kriieet

Suara pintu dari kamar bernomor 019 G yang di mana kamar ini resmi jadi milik Runa mulai malam ini. Kamarnya cukup sederhana, hanya tersedia ranjang single bed, lemari, meja belajar, komputer dan kamar mandi. (Ini sih bukan sederhana lagi -_-)

"Pakaianmu sudah ada di dalam lemari. Ah... Aku masih ada kerjaan di ruanganku. Aku tinggal tidak apa?" Vasilissa bersiap untuk pergi. Runa mengangguk lalu membungkuk hormat.

"Arigato gozaimasu, sensei.." ucap Runa sopan. Vasilissa tersenyum lalu pergi meninggalkan Runa di kamar.

"Ah... Sebaiknya aku mandi," Runa mengambil handuk di dalam lemari dan benar saja, ada seragam sekolah dan beberapa baju kaus di sana, "Sekolah yang hebat," puji Runa lalu berlari kecil ke kamar mandi.

--Skip Time- Ga mungkin Decan ceritain apa yang dia lakukan di kamar mandi, kan? -_- #plak

Runa melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan terperanjat saat melihat seorang gadis tengah duduk di atas ranjangnya.

"S-siapa, kau?" tanya Runa takut.

"Hai, teman~ ^^ Aku Aisha. Penghuni kamar ini yang sudah mati 5 tahun yang lalu. Salam kenal~,"

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pembaca Yang Baik Adalah Yang Memberikan Keripik Pedasnya(?)
By Sofie Diana Fitriah(Decan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar